<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Perawat &#187; Artikel Keperawatan</title>
	<atom:link href="http://perawat.web.id/category/artikel-keperawatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://perawat.web.id</link>
	<description>Just another WordPress site</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 15:18:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>normalkah feses atau kotoran anda…?</title>
		<link>http://perawat.web.id/normalkah-feses-atau-kotoran-anda%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://perawat.web.id/normalkah-feses-atau-kotoran-anda%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 06:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[barium]]></category>
		<category><![CDATA[feses]]></category>
		<category><![CDATA[protein]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perawat.web.id/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[feses adalah sisa makanan yang sudah dicerna dan tidak dapat digunakan oleh tubuh untuk diserap dan digunakan sebagai energi dalam tubuh dan makanan bagi sel-sel tubuh. biasanya feses yang normal berwarna coklat terang sampai coklat gelap. berbagai makanan dan obat-obatan &#8230; <a href="http://perawat.web.id/normalkah-feses-atau-kotoran-anda%e2%80%a6/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>feses adalah sisa makanan yang sudah dicerna dan tidak dapat digunakan oleh tubuh untuk diserap dan digunakan sebagai energi dalam tubuh dan makanan bagi sel-sel tubuh. biasanya feses yang normal berwarna coklat terang sampai coklat gelap. berbagai makanan dan obat-obatan mempengaruhi warna feses seperti berikut ini :</p>
<p>* protein daging menghasilkan warna coklat gelap<br />
* bayam dan sayuran menghasilkan warna hijau<br />
* wortel dan bit menghasilkan warna merah kokoa, coklat<br />
* barium untuk tes feses menghasilkan warna susu</p>
<p>untuk lebih lengkapnya klik</p>
<p>http://cupu.web.id/2009/05/normalkah-feses-atau-kotoran-anda/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perawat.web.id/normalkah-feses-atau-kotoran-anda%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANDA SERING MUAL DAN MUNTAH, BAGAIMANA MEKANISMENYA?</title>
		<link>http://perawat.web.id/anda-sering-mual-dan-muntah-bagaimana-mekanismenya/</link>
		<comments>http://perawat.web.id/anda-sering-mual-dan-muntah-bagaimana-mekanismenya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 02:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[maag]]></category>
		<category><![CDATA[mual]]></category>
		<category><![CDATA[muntah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perawat.web.id/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[ketika kita sakit maag atau gastritis kita sering mengalami mual dan muntah, hal ini merupakan gejala awal dari penyakit maag. bagaimana proses terjadinya mual dan muntah itu sendiri?? di jelaskan berikut ini. Mual yaitu : rasa ingin muntah yang dapat &#8230; <a href="http://perawat.web.id/anda-sering-mual-dan-muntah-bagaimana-mekanismenya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ketika kita sakit maag atau gastritis kita sering mengalami mual dan muntah, hal ini merupakan gejala awal dari penyakit maag. bagaimana proses terjadinya mual dan muntah itu sendiri?? di jelaskan berikut ini. Mual yaitu : rasa ingin muntah yang dapat di sebabkan oleh impuls iritasi yang datang dari traktus gastrointestinal, impuls yang berasal dari otak bawah yang berhubungan dengan motion sickness, maupun impuls yang berasal dari korteks serebri untuk memulai muntah.</p>
<p>untuk lebih jelasnya klik http://cupu.web.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perawat.web.id/anda-sering-mual-dan-muntah-bagaimana-mekanismenya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengkajian Keperawatan tentang Kebutuhan Pasien dan Keluarga akan Sentuhan</title>
		<link>http://perawat.web.id/pengkajian-keperawatan-tentang-kebutuhan-pasien-dan-keluarga-akan-sentuhan/</link>
		<comments>http://perawat.web.id/pengkajian-keperawatan-tentang-kebutuhan-pasien-dan-keluarga-akan-sentuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 12:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[sentuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perawat.web.id/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[dari : Oechay Pengkajian individu terhadap kebutuhan sentuhan adalah langkah yang sangat penting bagi Perawat. Karena banyak faktor yang mempengaruhi keinginan sentuhan, perawat harus mengingat bahwa kebutuhan orang-orang dan reaksi terhadap sentuhan bersifat individu. Tidak ada rumusan yang pasti untuk &#8230; <a href="http://perawat.web.id/pengkajian-keperawatan-tentang-kebutuhan-pasien-dan-keluarga-akan-sentuhan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>dari : Oechay<br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;">Pengkajian individu terhadap kebutuhan sentuhan adalah langkah yang sangat penting bagi Perawat. Karena banyak faktor yang mempengaruhi keinginan sentuhan, perawat harus mengingat bahwa kebutuhan orang-orang dan reaksi terhadap sentuhan bersifat individu. Tidak ada rumusan yang pasti untuk mengukur jumlah dan kualitas aspek ini pada tiap orang karena faktor yang begitu kompleks yang menunjang keyakinan seseorang dan perasaanya tentang sentuhan. Praktik keluarga secara individu, praktik kebudayaan dan gaya koping merupakan merupakan kekuatan yang mempengaruhi keinginan untuk &#8211; dan menginterpretasikan sentuhan oleh orang lain perawat harus menggunakan informasi yang ada pada lingkungan perawatan, insting subyektif dan interpretasi pola interaksi keluarga untuk menentukan strategi mereka untuk memenuhi kebutuhan sentuhan dari pasien mereka dan keluarganya</p>
<p style="text-align: left;">Terdapat beberapa pertanyaan kunci bahwa perawat harus mempertimbangkan saat mengkaji kebutuhan akan sentuhan pasien dan keluarga<img title="More..." src="http://perawat.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-82"></span></p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>T</strong></em> Jumlah total sentuhan saat ini dari keluarga dan anggota tim   kesehatan</p>
<p style="text-align: left;">Pasien membutuhkan sedikit perawatan fisik, mungkin diisolasi, atau mungkin menggunakan tempat tidur kinetik. Sering kali pasien  ini mempunyai atau tidak sama sekali mempunyai pengunjung, atau anggota keluarga sangat ragu-ragu menyentuh pasien. Ketika dengan pasien mereka tetap jauh dari tempat tidur dan munculnya ketakutan atau rasa tidak nyaman dengan menyentuh atau menunjukkan pengaruhnya dan perawatan.</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>O</strong></em> Pasien lansia sering meningkat akan kebutuhan sentuhan yang berarti selama periode krisis. Agging process yang juga membuat  mereka lebih cenderung terjadi penurunan sensori, kekacauan mental, dan kesulitan komunikasi yang dapat dikurangi dengan sentuhan yang berarti dalam memberikan perawatan. Mmepunyai pengunjung dan interaksi verbal sedikit dapat memperbesar kebutuhan memreka akan sentuhan.</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>U</strong></em> Ancaman yang tidak biasa terhadap gambaran diri dan jarak kedekatan pribadi terjadi pada saat pasien mengalami ketidaknyamanan dan bingung tentang bagian tubuhnya dan menyatukan bagian-bagian tubuhnya ke dalam satu tubuh yang utuh.</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>C</strong></em> Tingkat kesadaran pasien memberi isyarat akan kebutuhan sentuhan. Mungkin terjadi kurang jika mereka stabil dan dapat berpartisipasi pada perawatan mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Krisis dapat memicu peningkatan akan kebutuhan dukungan, kedekatan dengan orang lain, komunikasi yang jelas. Sering terjadi sedikit kesempatan bagi perawat memberikan dukungan verbal yang lama selama situasi krisis, walaupun kebutuhan dukungan dan perawatan semakin meningkat.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>H</em></strong> Teknologi canggih sangat menunjang perawatan intensif. Ketidakberdayaan dan keputusasaan merupakan perasaan yang dialami pasien jika mereka mengetahui bahwa mereka tidak meningkatkan situasi mereka pada tingkat yang dapat diterima. Perasaan ini memungkinkan mereka dalam kehancuran dan depressi. Mereka akan menampakkan perasaan ini dengan tampak apatis terhadap kondisi mereka atau perawatan, withdrawal, atau menghindari komunikasi, atau menangis dan terluka. Merasa kesepian dalam krisis mereka hanya membuat mereka makin putus asa. Pasien ini mungkin sangat terbuka terhadap dukungan dan pemberian perhatian sentuhan perawat sebagai tanda bahwa seseorang memperhatikan dan bersamanya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>I</em></strong> Psikosis ICU, kekacauan mental dan tak berdaya merupakan kemungkinan efek samping dari lingkungan perawatan kritis pada kombinasi tingkat stress pasien. Kurang istirahat, perubahan status nutrisi dan penggunaan obat juga mendukung terjadinya ketidakseimbangan yang dialami pasien. Sentuhan yang hati-hati dan direncanakan dapat membantu pasien melalui episode ini. Keinginan menyentuh bagi pasien mungkin merupakan isyarat kebutuhannya untuk mengadakan kontak rasa dengan orang lain. Pasien yang meraih perawat atau memegang lengan atau tangan perawat mungkin menandakan kebutuhan mereka untuk kedekatan dan kontak dengan orang lain.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>N</em></strong> Menggunakan lima indra secara normal dan input sensoris yang normal dan jumlah serta kualitasnya meningkatkan kemampuan pasien untuk mengatasi ansietas, lingkungan asing dan situasi krisis. Sayangnya semua itu sering  mengubah input sensoris dan penggunaannya. Memberikan perhatian yang sensitif pada perilaku pasien merupakan langkah pertama dalam mencapai keseimbangan proses sensoris. Langkah kedua termasuk menggunakan sentuhan yang bermakna dalam mencoba mengkomunikasikan keperawatan dan menghubungkan pasien dengan realita, martabat dan harga diri. Langkah ketiga membutuhakan perawat untuk melihat respons pasien untuk menilai intervensi pada tingkat individu.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>G</em></strong> Memberikan isyarat perilaku terhadap kebutuhan sentuhan merupakan fenomena yang tidak disadari pasien. Expresi wajah, kontak mata, ungkapan verbal, ingin menyentuh dan sering memanggil perawat mungkin menandakan kebutuhan pasien akan seseorang disampingnya</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Sama pentingnya menyadari isyarat pasien untuk menghindari sentuhan. Ingatlah pasien sebagai individu, perubahan suasana hati, pengaruh budaya dan perubahan fisiologis mungkin menyebabkan fluktuasi pada kebutuhan pasien atau kesiapan fisik untuk kontak. Keterbuakaan untuk menyentuh pada satu waktu tidak meyakinkan bahwa pasien akan merasa nyaman dengan sentuhan dibawah kondisi lain. Penting untuk memahami bahwa kebutuhan pasien dan berespons menyentuh berubah dari waktu ke waktu atau dari hari ke hari.*)</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>*) Hudak &amp; Gallo Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Ed VI Vol I 1997</em></p>
<p style="text-align: left;">
<blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">
</blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong><br />
</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">
</blockquote>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perawat.web.id/pengkajian-keperawatan-tentang-kebutuhan-pasien-dan-keluarga-akan-sentuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawat Entrepreneur</title>
		<link>http://perawat.web.id/perawat-entrepreneur/</link>
		<comments>http://perawat.web.id/perawat-entrepreneur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 12:33:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perawat.web.id/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari yang lalu sempat sy chatting bareng mas Doni, mulai dari masalah pribadi, profesi perawat sampai pengalaman wirausaha. Saya sangat setuju apa yang dikatakan mas Doni bahwa kita sebagai perawat sudah saatnya menghidupi profesi perawat agar bisa lebih maju, &#8230; <a href="http://perawat.web.id/perawat-entrepreneur/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari yang lalu sempat sy chatting bareng mas Doni, mulai dari masalah pribadi, profesi perawat sampai pengalaman wirausaha.</p>
<p>Saya sangat setuju apa yang dikatakan mas Doni bahwa kita sebagai perawat sudah saatnya <strong>menghidupi </strong>profesi perawat agar bisa lebih maju, bukan <strong>hidup </strong>dari profesi perawat.</p>
<p>Mungkin ide mas Doni untuk membuat suatu komunitas perawat pebisnis sangat bagus.</p>
<p>Perawat entrepreneur mungkin bisa diartikan sebagai perawat yang mempunyai jiwa wirausaha.</p>
<p>Entrepreneur/wirausaha/pebisnis,  yang tidak dikenali seperempat abad lalu, saat ini diajarkan sebagai mata kuliah di universitas di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, ratusan perguruan tinggi mengajarkan itu. Apakah ini benar-benar fenomena baru? Tidak persis demikian. Kita sebenarnya dilahirkan sebagai entreperneur. Keberanian, kreativitas, dan inisiatif  semuanya adalah sifat yang dimiliki seseorang sejak lahir. Itu alami, melekat dalam diri kita, Tinggal masalahnya, buatlah kemampuan itu muncul dan bekerja optimal . Kita sebagai perawat sudah pernah memenangkan persaingan yang paling akbar di jagat raya ini yaitu 700 juta sel sperma yang bersaing membuahi ovum. Kitalah pemenangnya. Lalu berkembang menjadi bayi, bayi manapun di dunia ini, sebelum mereka dibanjiri nilai-nilai dan peraturan masyarakat, tanpa perlu ikut seminar tentang ”berjalan”, ia belajar berjalan sampai bisa. Setiap kali si bayi yang belajar berjalan, ia tersandung dan terjatuh kemudian bangkit lagi. Bayi itu pun belajar berbicara tanpa perlu mengikuti kurus bahasa. Sayangnya, semua kelebihan itu hilang ketika ia memasuki institusi yang kita sebut sekolah.<span id="more-90"></span></p>
<p>Pertanyaannya adalah adakah institusi di dunia ini yang bisa mengajari  cara menjalankan bisnis kita sendiri?, kalau kita sebut beberapa kursus atau jurusan bisnis dengan nama-nama tetentu yang ditawarkan oleh universitas atau sebuah lembaga kursus. Terus terang, itu semua tidak  mengajarkan kita bagaimana menjalankan bisnis  untuk diri kita sendiri. Mereka hanya mengajarkan kita bagaimana menjalankan bisnis untuk orang lain! Kalau kita mengikuti kursus akuntansi, yang diajarkan   adalah bagaimana kita menghitung uang orang lain.</p>
<p>Entrepeneur bagi perawat bisa dipelajari sambil melakukannya <strong><em>(learning by doing)</em></strong>, namun harus diingat bahwa wawasan tentang jenis usaha yang akan dipilih tetap sangat diperlukan karena jika tanpa hal itu sama dengan menyelam ke dasar laut tanpa tabung gas.</p>
<p>Saya sebagai kepala ruangan di sebuah RS merasa pusing bila ditanya masalah penghasilan dan ketentraman hati. Saat perawat ditanya berapa tabungan di Bank?, berapa deposito anda?, kapan anda ke tanah suci?, seberapa banyak aset yang anda miliki? apakah anda sering menunggu gaji bulanan?, Apakah sering terjadi konflik di tempat kerja gara-gara  honor yang tidak sesuai?, apakah hati anda tidak tenang menghadapi masa depan?. Apakah otak mulai panas saat harga-harga melambung tinggi?. Tapi itulah kenyataan yang terjadi dilapangan.</p>
<p>Dalam bidang pekerjaan apapun, yang namanya income harian, mingguan, bulanan, tahunan dan &#8220;dadakan&#8221;, semuanya penting terpenuhi. Tetapi selain itu kita masih bisa melakukan hal lain, banyak bisnis/usaha yang bisa dilakukan perawat, jadi sambil bekerja sebagai perawat, namun memiliki usaha sampingan di bidang wirausaha.</p>
<p>Bekerja di luar negeri bisa menjadi langkah awal menjadi pebisnis dan investor. Perawat di luar negeri rata-rata mencapai gaji 10 x lipat perawat di Indonesia. Sebelum menjadi pengusaha kita memang perlu modal finansial dan modal karakter.</p>
<p>Setiap orang, siap atau tidak, kondisi akan mendorongnya menjadi seorang entrepreneur, sekarang  jaman sudah berubah.</p>
<p>Rujukan: <a href="http://iyusyosep.wordpress.com/2008/09/15/nursing-entrepreneur/#more-4" target="_blank">iyusyosep.wordpress.com</a>, <a href="http://mediaperawat.blogspot.com/2009/02/apakah-kamu-kaya.html" target="_blank">mediaperawat.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perawat.web.id/perawat-entrepreneur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN  PADA pasien DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)</title>
		<link>http://perawat.web.id/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-luka-bakar-combustio/</link>
		<comments>http://perawat.web.id/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-luka-bakar-combustio/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 01:02:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[askep]]></category>
		<category><![CDATA[combustio]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi]]></category>
		<category><![CDATA[luka bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perawat.web.id/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001). Etiologi Luka Bakar Suhu Tinggi(Thermal Burn) Gas Cairan Bahan padat &#8230; <a href="http://perawat.web.id/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-luka-bakar-combustio/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Definisi</strong></h3>
<ul>
<p align="justify">Luka bakar adalah suatu trauma yang  disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai  kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo,  2001).</p>
</ul>
<h3><strong>Etiologi</strong></h3>
<ol type="1">
<li>Luka Bakar Suhu    Tinggi(Thermal Burn)</li>
</ol>
<ul>
<li>
<ol type="a">
<li>Gas</li>
<li>Cairan</li>
<li>Bahan padat (Solid)</li>
</ol>
</li>
</ul>
<ol type="1">
<li>Luka Bakar Bahan    Kimia (hemical Burn)</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Luka Bakar Sengatan    Listrik (Electrical Burn)</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Luka Bakar Radiasi    (Radiasi Injury)</li>
</ol>
<h3><strong>Fase Luka  Bakar</strong></h3>
<ol>
<li>
<ol type="A">
<li><strong>Fase akut.</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Disebut sebagai fase awal  atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan  airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation  (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa  saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan  akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi  adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Pada fase akut sering terjadi gangguan  keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak  sistemik.</p>
</ul>
<ol>
<li>
<ol type="A">
<li><strong>Fase sub akut.</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Berlangsung setelah fase syok teratasi.  Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat  kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:</p>
</ul>
<ol type="1">
<li>Proses inflamasi    dan infeksi.</li>
<li>Problempenuutpan    luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel    luas dan atau pada struktur atau organ &#8211; organ fungsional.</li>
<li>Keadaan hipermetabolisme.</li>
</ol>
<ol>
<li>
<ol type="A">
<li><strong>Fase lanjut.</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Fase lanjut akan berlangsung hingga  terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ  fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa  parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan  kontraktur.<span id="more-96"></span></p>
</ul>
<h3><strong>Klasifikasi  Luka Bakar</strong></h3>
<ol type="A">
<li><strong>Dalamnya luka    bakar.</strong></li>
</ol>
<p><a name="0.1_table01"></a></p>
<table border="2" cellspacing="0" width="613">
<tbody>
<tr valign="top">
<td height="21"><strong>Kedalaman</strong></td>
<td><strong>Penyebab</strong></td>
<td><strong>Penampilan</strong></td>
<td><strong>Warna</strong></td>
<td><strong>Perasaan</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Ketebalan    partial superfisial</p>
<p align="justify">(tingkat I)</p>
</td>
<td>Jilatan api, sinar ultra violet    (terbakar oleh matahari).</td>
<td>Kering tidak ada gelembung.</p>
<p align="justify">Oedem minimal    atau tidak ada.</p>
<p align="justify">Pucat bila    ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas.</p>
</td>
<td>Bertambah merah.</td>
<td>Nyeri</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Lebih dalam    dari ketebalan partial</p>
<p align="justify">(tingkat II)</p>
<ul type="disc">
<li>Superfisial</li>
<li>Dalam</li>
</ul>
</td>
<td>Kontak dengan bahan air atau    bahan padat.</p>
<p align="justify">Jilatan api    kepada pakaian.</p>
<p align="justify">Jilatan langsung    kimiawi.</p>
<p align="justify">Sinar ultra    violet.</p>
</td>
<td>Blister besar dan lembab yang    ukurannya bertambah besar.</p>
<p align="justify">Pucat bial    ditekan dengan ujung jari, bila tekanan dilepas berisi kembali.</p>
</td>
<td>Berbintik-bintik yang kurang    jelas, putih, coklat, pink, daerah merah coklat.</td>
<td>Sangat nyeri</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Ketebalan    sepenuhnya</p>
<p align="justify">(tingkat III)</p>
</td>
<td>Kontak dengan bahan cair atau    padat.</p>
<p align="justify">Nyala api.</p>
<p align="justify">Kimia.</p>
<p align="justify">Kontak dengan    arus listrik.</p>
</td>
<td>Kering disertai kulit mengelupas.</p>
<p align="justify">Pembuluh darah    seperti arang terlihat dibawah kulit yang mengelupas.</p>
<p align="justify">Gelembung jarang,    dindingnya sangat tipis, tidak membesar.</p>
<p align="justify">Tidak pucat    bila ditekan.</p>
</td>
<td>Putih, kering, hitam, coklat    tua.</p>
<p align="justify">Hitam.</p>
<p align="justify">Merah.</p>
</td>
<td>Tidak sakit, sedikit sakit.</p>
<p align="justify">Rambut mudah    lepas bila dicabut.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol type="A">
<li><strong>Luas luka bakar</strong></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Wallace membagi tubuh atas bagian 9%  atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atua rule of  wallace yaitu:</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">1) Kepala  dan leher    : 9%</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">2) Lengan  masing-masing 9%   : 18%</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">3) Badan  depan 18%, badan belakang 18% : 36%</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">4) Tungkai  maisng-masing 18%  : 36%</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">5) Genetalia/perineum    :  1%</p>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Total :  100%</p>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ol type="A">
<li><strong>Berat ringannya    luka bakar</strong></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Untuk mengkaji beratnya luka bakar  harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain :</p>
</ul>
<ul>
<li>
<ol type="1">
<li>Persentasi area    (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh.</li>
<li>Kedalaman luka bakar.</li>
<li>Anatomi lokasi luka    bakar.</li>
<li>Umur klien.</li>
<li>Riwayat pengobatan    yang lalu.</li>
<li>Trauma yang menyertai    atau bersamaan.</li>
</ol>
</li>
</ul>
<ul>
<p align="justify"><strong>American  college of surgeon membagi dalam:</strong></p>
</ul>
<ol type="A">
<li>Parah &#8211; critical:
<ol type="a">
<li>Tingkat II : 30%      atau lebih.</li>
<li>Tingkat III : 10%      atau lebih.</li>
<li>Tingkat III pada      tangan, kaki dan wajah.</li>
<li>Dengan adanya komplikasi      penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas.</li>
</ol>
</li>
<li>Sedang &#8211; moderate:</li>
</ol>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">a)  Tingkat II  : 15 &#8211; 30%</p>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">b)  Tingkat III  : 1 &#8211; 10%</p>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ol type="A">
<li>Ringan &#8211; minor:</li>
</ol>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">a)  Tingkat II  : kurang 15%</p>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">b)  Tingkat III  : kurang 1%</p>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p align="justify"><strong>Patofisiologi   (Hudak &amp; Gallo; 1997)</strong></p>
<h3><a name="0.1_graphic04"></a><strong><img src="http://mail.google.com/mail/?name=ccf32a38c42f1f28.jpg&amp;attid=0.1&amp;disp=vahi&amp;view=att&amp;th=11fa892604c55907" alt="Your browser may not support display of this image." width="1" height="1" /></strong></h3>
<h3><strong>Perubahan  Fisiologis Pada Luka Bakar</strong></h3>
<p><a name="0.1_table02"></a></p>
<table border="2" cellspacing="0" width="582">
<tbody>
<tr valign="top">
<td rowspan="2"><strong>Perubahan</strong></td>
<td colspan="2"><strong>Tingkatan hipovolemik</strong></p>
<p align="justify"><strong>( s/d 48-72    jam pertama)</strong></p>
</td>
<td colspan="2"><strong>Tingkatan diuretik</strong></p>
<p align="justify"><strong>(12 jam    &#8211; 18/24 jam pertama)</strong></p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Mekanisme</strong></td>
<td><strong>Dampak dari</strong></td>
<td><strong>Mekanisme</strong></td>
<td><strong>Dampak dari</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Pergeseran    cairan ekstraseluler.</td>
<td>Vaskuler ke insterstitial.</td>
<td>Hemokonsentrasi oedem pada    lokasi luka bakar.</td>
<td>Interstitial ke vaskuler.</td>
<td>Hemodilusi.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Fungsi renal.</td>
<td>Aliran darah renal berkurang    karena desakan darah turun dan CO berkurang.</td>
<td>Oliguri.</td>
<td>Peningkatan aliran darah renal    karena desakan darah meningkat.</td>
<td>Diuresis.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Kadar sodium/natrium.</td>
<td>Na<sup>+</sup> direabsorbsi    oleh ginjal, tapi kehilangan Na<sup>+</sup> melalui eksudat dan tertahan    dalam cairan oedem.</td>
<td>Defisit sodium.</td>
<td>Kehilangan Na<sup>+</sup> melalui diuresis (normal kembali setelah 1 minggu).</td>
<td>Defisit sodium.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Kadar potassium.</td>
<td>K<sup>+</sup> dilepas sebagai    akibat cidera jarinagn sel-sel darah merah, K<sup>+</sup> berkurang    ekskresi karena fungsi renal berkurang.</td>
<td>Hiperkalemi</td>
<td>K<sup>+</sup> bergerak kembali    ke dalam sel, K<sup>+</sup> terbuang melalui diuresis (mulai 4-5 hari    setelah luka bakar).</td>
<td>Hipokalemi.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Kadar protein.</td>
<td>Kehilangan protein ke dalam    jaringan akibat kenaikan permeabilitas.</td>
<td>Hipoproteinemia.</td>
<td>Kehilangan protein waktu berlangsung    terus katabolisme.</td>
<td>Hipoproteinemia.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Keseimbangan    nitrogen.</td>
<td>Katabolisme jaringan, kehilangan    protein dalam jaringan, lebih banyak kehilangan dari masukan.</td>
<td>Keseimbangan nitrogen negatif.</td>
<td>Katabolisme jaringan, kehilangan    protein, immobilitas.</td>
<td>Keseimbangan nitrogen negatif.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Keseimbnagan    asam basa.</td>
<td>Metabolisme anaerob karena    perfusi jarinagn berkurang peningkatan asam dari produk akhir, fungsi    renal berkurang (menyebabkan retensi produk akhir tertahan), kehilangan    bikarbonas serum.</td>
<td>Asidosis metabolik.</td>
<td>Kehilangan sodium bicarbonas    melalui diuresis, hipermetabolisme disertai peningkatan produk akhir    metabolisme.</td>
<td>Asidosis metabolik.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Respon stres.</td>
<td>Terjadi karena trauma, peningkatan    produksi cortison.</td>
<td>Aliran darah renal berkurang.</td>
<td>Terjadi karena sifat cidera    berlangsung lama dan terancam psikologi pribadi.</td>
<td>Stres karena luka.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Eritrosit</td>
<td>Terjadi karena panas, pecah    menjadi fragil.</td>
<td>Luka bakar termal.</td>
<td>Tidak terjadi pada hari-hari    pertama.</td>
<td>Hemokonsentrasi.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Lambung.</td>
<td>Curling ulcer (ulkus pada    gaster), perdarahan lambung, nyeri.</td>
<td>Rangsangan central di hipotalamus    dan peingkatan jumlah cortison.</td>
<td>Akut dilatasi dan paralise    usus.</td>
<td>Peningkatan jumlah cortison.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>Jantung.</td>
<td>MDF meningkat 2x lipat, merupakan    glikoprotein yang toxic yang dihasilkan oleh kulit yang terbakar.</td>
<td>Disfungsi jantung.</td>
<td>Peningkatan zat MDF (miokard    depresant factor) sampai 26 unit, bertanggung jawab terhadap syok spetic.</td>
<td>CO menurun.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3><strong>Indikasi  Rawat Inap Luka Bakar</strong></h3>
<ol type="A">
<li>Luka bakar grade    II:</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Dewasa &gt; 20%</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Anak/orang tua &gt;    15%</li>
</ol>
<ol type="A">
<li>Luka bakar grade    III.</li>
</ol>
<ol type="A">
<li>Luka bakar dengan    komplikasi: jantung, otak dll.</li>
</ol>
<h3><strong>Penatalaksanaan</strong></h3>
<ol type="A">
<li>Resusitasi A, B,    C.</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Pernafasan:</li>
</ol>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol type="a">
<li>Udara panas à            mukosa rusak à            oedem à            obstruksi.</li>
<li>Efek toksik dari            asap: HCN, NO<sub>2</sub>, HCL, Bensin à iritasi à Bronkhokontriksi à obstruksi à gagal nafas.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Sirkulasi:</li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">gangguan  permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler à  hipovolemi relatif à syok à ATN à gagal ginjal.</p>
</ul>
<ol type="A">
<li>Infus, kateter,    CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka.</li>
<li>Resusitasi cairan  à     Baxter.</li>
</ol>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;">Dewasa</span> : Baxter.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">RL  4 cc x BB x % LB/24 jam.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;">Anak</span>:  jumlah resusitasi + kebutuhan faal:</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">RL  : Dextran = 17 : 3</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">2 cc  x BB x % LB.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;">Kebutuhan  faal:</span></p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">&lt;  1 tahun : BB x 100 cc</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">1 &#8211;  3 tahun : BB x 75 cc</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">3 &#8211;  5 tahun : BB x 50 cc</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">½ à  diberikan  8 jam pertama</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">½ à  diberikan  16 jam berikutnya.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><strong>Hari  kedua</strong>:</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;">Dewasa</span> :  Dextran 500 &#8211; 2000 + D5% / albumin.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;">(  3-x) x 80 x BB gr/hr</span></p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">100</p>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">(Albumin  25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify"><span style="text-decoration: underline;">Anak</span> :  Diberi sesuai kebutuhan faal.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ol type="A">
<li>Monitor urine dan    CVP.</li>
<li>Topikal dan tutup    luka</li>
</ol>
<ul type="disc">
<li>Cuci luka dengan    savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik.</li>
</ul>
<ul type="disc">
<li>Tulle.</li>
<li>Silver sulfa diazin    tebal.</li>
<li>Tutup kassa tebal.</li>
<li>Evaluasi 5 &#8211; 7    hari, kecuali balutan kotor.</li>
</ul>
<ol type="A">
<li><em>Obat    &#8211; obatan:</em>
<ul type="disc">
<li>Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang      &lt; 6 jam sejak kejadian.</li>
<li>Bila perlu berikan      antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur.</li>
<li>Analgetik : kuat      (morfin, petidine)</li>
<li>Antasida : kalau      perlu</li>
</ul>
</li>
</ol>
<h2><strong>KONSEP  ASUHAN KEPERAWATAN</strong></h2>
<ol type="1">
<li><strong>Pengkajian</strong></li>
</ol>
<ol type="a">
<li><em> </em>Aktifitas/istirahat:</li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Tanda:  Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang  gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Sirkulasi:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Tanda (dengan  cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan  nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer  umum dengan kehilangan  nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri);  disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Integritas ego:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Gejala:  masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Tanda:  ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Eliminasi:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Tanda:  haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam  kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam;  diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi);  penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih  besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Makanan/cairan:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Tanda:  oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Neurosensori:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Gejala:  area batas; kesemutan.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Tanda:  perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam  (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi  korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik);  ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada  aliran saraf).</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Nyeri/kenyamanan:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Gejala:  Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif  untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar  ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka  bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf;  luka bakar derajat tiga tidak nyeri.</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Pernafasan:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Gejala:  terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi).</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Tanda:  serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan  sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Pengembangan  torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas  atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema  laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal);  sekret jalan nafas dalam (ronkhi).</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Keamanan:</em></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Tanda:</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Kulit umum:  destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan  dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Area kulit  tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler  lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan  cairan/status syok.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Cedera  api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas  panas yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung  dan mulut kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar  mulut dan atau lingkar nasal.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Cedera  kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Kulit mungkin  coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus;  nekrosis; atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari  tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai  72 jam setelah cedera.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Cedera  listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis.  Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif),  luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka  bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar.</p>
</ul>
<ul>
<p align="justify">Adanya  fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik  sehubungan dengan syok listrik).</p>
</ul>
<ol type="a">
<li><em>Pemeriksaan    diagnostik:</em>
<ol type="1">
<li>LED: mengkaji hemokonsentrasi.</li>
<li>Elektrolit serum      mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting      untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena      peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.</li>
<li>Gas-gas darah arteri      (GDA) dan sinar X dada mengkaji      fungsi pulmonal, khususnya pada  cedera inhalasi asap.</li>
<li>BUN dan kreatinin      mengkaji fungsi ginjal.</li>
<li>Urinalisis menunjukkan      mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar      ketebalan penuh luas.</li>
<li>Bronkoskopi membantu      memastikan cedera inhalasi asap.</li>
<li>Koagulasi memeriksa      faktor-faktor pembekuan yang      dapat menurun pada luka bakar masif.</li>
<li>Kadar karbon monoksida      serum meningkat pada cedera inhalasi asap.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol type="1">
<li><strong>Diagnosa Keperawatan</strong></li>
</ol>
<ul>
<p align="justify">Marilynn  E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for planning and documenting  patient care mengemukakan beberapa Diagnosa keperawatan sebagai berikut  :</p>
</ul>
<ol>
<li>
<ol type="1">
<li>Resiko tinggi bersihan      jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema      mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi      jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada.</li>
<li>Resiko tinggi kekurangan      volume cairan berhubungan      dengan Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan      : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan.</li>
<li>Resiko kerusakan      pertukaran gas berhubungan      dengan cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder      terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.</li>
<li>Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer      tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan      sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.</li>
<li>Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan;      pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.</li>
<li>Resiko tinggi kerusakan      perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler      perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena,      contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema.</li>
<li>Perubahan nutrisi      : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik      (sebanyak 50 % &#8211; 60% lebih besar dari      proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.</li>
<li>Kerusakan mobilitas      fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan      kekuatan dan tahanan.</li>
<li>Kerusakan integritas      kulit berhubungan dengan      Trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka      bakar dalam).</li>
<li>Gangguan citra      tubuh (penampilan peran) berhubungan      dengan krisis situasi; kejadian traumatik peran klien tergantung, kecacatan      dan nyeri.</li>
<li>Kurang pengetahuan      tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan      pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal      sumber informasi.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>Rencana  Intervensi </strong></p>
<p><a name="0.1_table03"></a></p>
<table border="2" cellspacing="0" width="553">
<tbody>
<tr valign="top">
<td rowspan="2" height="26"><strong>Diagnosa Keperawatan</strong></td>
<td colspan="3"><strong>Rencana Keperawatan</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26"><strong>Tujuan    dan Kriteria Hasil</strong></td>
<td><strong>Intervensi</strong></td>
<td><strong>Rasional</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26">Resiko    bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan  obstruksi    trakheobronkhial; oedema mukosa; kompressi jalan nafas .</td>
<td>Bersihan jalan nafas tetap    efektif.</p>
<p align="justify">Kriteria Hasil    : Bunyi nafas vesikuler, RR dalam batas normal, bebas dispnoe/cyanosis.</p>
</td>
<td>Kaji refleks gangguan/menelan;    perhatikan pengaliran air liur, ketidakmampuan menelan, serak, batuk    mengi.</p>
<p align="justify">Awasi frekuensi,    irama, kedalaman pernafasan ; perhatikan adanya pucat/sianosis dan sputum    mengandung karbon atau merah muda.</p>
<p align="justify">Auskultasi    paru, perhatikan stridor, mengi/gemericik, penurunan bunyi nafas, batuk    rejan.</p>
<p align="justify">Perhatikan    adanya pucat atau warna buah ceri merah pada kulit yang cidera</p>
<p align="justify">Tinggikan kepala    tempat tidur. Hindari penggunaan bantal di bawah kepala, sesuai indikasi</p>
<p align="justify">Dorong batuk/latihan    nafas dalam dan perubahan posisi sering.</p>
<p align="justify">Hisapan (bila    perlu) pada perawatan ekstrem, pertahankan teknik steril.</p>
<p align="justify">Tingkatkan    istirahat suara tetapi kaji kemampuan untuk bicara dan/atau menelan    sekret oral secara periodik.</p>
<p align="justify">Selidiki perubahan    perilaku/mental contoh gelisah, agitasi, kacau mental.</p>
<p align="justify">Awasi 24 jam    keseimbngan cairan, perhatikan variasi/perubahan.</p>
<p align="justify">Lakukan program    kolaborasi meliputi :</p>
<p align="justify">Berikan pelembab    O<sub>2</sub> melalui cara yang tepat, contoh masker wajah</p>
<p align="justify">Awasi/gambaran    seri GDA</p>
<p align="justify">Kaji ulang    seri rontgen</p>
<p align="justify">Berikan/bantu    fisioterapi dada/spirometri intensif.</p>
<p align="justify">Siapkan/bantu    intubasi atau trakeostomi sesuai indikasi.</p>
</td>
<td>Dugaan cedera inhalasi</p>
<p align="justify">Takipnea, penggunaan    otot bantu, sianosis dan perubahan sputum menunjukkan terjadi distress    pernafasan/edema paru dan kebutuhan intervensi medik.</p>
<p align="justify">Obstruksi jalan    nafas/distres pernafasan dapat terjadi sangat cepat atau lambat contoh    sampai 48 jam setelah terbakar.</p>
<p align="justify">Dugaan adanya    hipoksemia atau karbon monoksida.</p>
<p align="justify">Meningkatkan    ekspansi paru optimal/fungsi pernafasan. Bilakepala/leher terbakar,    bantal dapat menghambat pernafasan, menyebabkan nekrosis pada kartilago    telinga yang terbakar dan meningkatkan konstriktur leher.</p>
<p align="justify">Meningkatkan    ekspansi paru, memobilisasi dan drainase sekret.</p>
<p align="justify">Membantu mempertahankan    jalan nafas bersih, tetapi harus dilakukan kewaspadaan karena edema    mukosa dan inflamasi. Teknik steril menurunkan risiko infeksi.</p>
<p align="justify">Peningkatan    sekret/penurunan kemampuan untuk menelan menunjukkan peningkatan edema    trakeal dan dapat mengindikasikan kebutuhan untuk intubasi.</p>
<p align="justify">Meskipun sering    berhubungan dengan nyeri, perubahan kesadaran dapat menunjukkan terjadinya/memburuknya    hipoksia.</p>
<p align="justify">Perpindahan    cairan atau kelebihan penggantian cairan meningkatkan risiko edema paru. <em> Catatan</em> : Cedera inhalasi meningkatkan kebutuhan cairan sebanyak    35% atau lebih karena edema.</p>
<p align="justify">O<sub>2</sub> memperbaiki hipoksemia/asidosis. Pelembaban menurunkan pengeringan saluran    pernafasan dan menurunkan viskositas sputum.</p>
<p align="justify">Data dasar    penting untuk pengkajian lanjut status pernafasan dan pedoman untuk    pengobatan. PaO<sub>2</sub> kurang dari 50, PaCO<sub>2</sub> lebih besar    dari 50 dan penurunan pH menunjukkan inhalasi asap dan terjadinya pneumonia/SDPD.</p>
<p align="justify">Perubahan menunjukkan    atelektasis/edema paru tak dapat terjadi selama 2 &#8211; 3 hari setelah    terbakar</p>
<p align="justify">Fisioterapi    dada mengalirkan area dependen paru, sementara spirometri intensif dilakukan    untuk memperbaiki ekspansi paru, sehingga meningkatkan fungsi pernafasan    dan menurunkan atelektasis.</p>
<p align="justify">Intubasi/dukungan    mekanikal dibutuhkan bila jalan nafas edema atau luka bakar mempengaruhi    fungsi paru/oksegenasi.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26">Resiko    tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan    melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik,    ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan.</td>
<td>Pasien dapat mendemostrasikan    status cairan dan biokimia membaik.</p>
<p align="justify">Kriteria evaluasi:    tak ada manifestasi dehidrasi, resolusi oedema, elektrolit serum dalam    batas normal, haluaran urine di atas 30 ml/jam.</p>
</td>
<td>Awasi tanda vital, CVP. Perhatikan    kapiler dan kekuatan nadi perifer.</p>
<p align="justify">Awasi pengeluaran    urine dan berat jenisnya. Observasi warna urine dan hemates sesuai indikasi.</p>
<p align="justify">Perkirakan    drainase luka dan kehilangan yang tampak</p>
<p align="justify">Timbang berat    badan setiap hari</p>
<p align="justify">Ukur lingkar    ekstremitas yang terbakar tiap hari sesuai indikasi</p>
<p align="justify">Selidiki perubahan    mental</p>
<p align="justify">Observasi distensi    abdomen,hematomesis,feces hitam.</p>
<p align="justify">Hemates drainase    NG dan feces secara periodik.</p>
<p align="justify">Lakukan program    kolaborasi meliputi :</p>
<p align="justify">Pasang / pertahankan    kateter urine</p>
<p align="justify">Pasang/ pertahankan    ukuran kateter IV.</p>
<p align="justify">Berikan penggantian    cairan IV yang dihitung, elektrolit, plasma, albumin.</p>
<p align="justify">Awasi hasil    pemeriksaan laboratorium ( Hb, elektrolit, natrium ).</p>
<p align="justify">Berikan obat    sesuai idikasi :</p>
<ul type="disc">
<li>Diuretika contohnya      Manitol (Osmitrol)</li>
</ul>
<ul type="disc">
<li>Kalium</li>
</ul>
<ul type="disc">
<li>Antasida</li>
</ul>
<p align="justify">Pantau:</p>
<ul type="disc">
<li>Tanda-tanda vital      setiap jam selama periode darurat, setiap 2 jam selama periode akut,      dan setiap 4 jam selama periode rehabilitasi.</li>
<li>Warna urine.</li>
<li>Masukan dan haluaran      setiap jam selama periode darurat, setiap 4 jam selama periode akut,      setiap 8 jam selama periode rehabilitasi.</li>
<li>Hasil-hasil JDL      dan laporan elektrolit.</li>
<li>Berat badan setiap      hari.</li>
<li>CVP (tekanan vena      sentral) setiap jam bial diperlukan.</li>
<li>Status umum setiap      8 jam.</li>
</ul>
<p align="justify">Pada penerimaan    rumah sakit, lepaskan semua pakaian dan perhiasan dari area luka bakar.</p>
<p align="justify">Mulai terapi    IV yang ditentukan dengan jarum lubang besar (18G), lebih disukai melalui    kulit yang telah terluka bakar. Bila pasien menaglami luka bakar luas    dan menunjukkan gejala-gejala syok hipovolemik, bantu dokter dengan    pemasangan kateter vena sentral untuk pemantauan CVP.</p>
<p align="justify">Beritahu dokter    bila: haluaran urine &lt; 30 ml/jam, haus, takikardia, CVP &lt; 6 mmHg,    bikarbonat serum di bawah rentang normal, gelisah, TD di bawah rentang    normal, urine gelap atau encer gelap.</p>
<p align="justify">Konsultasi    doketr bila manifestasi kelebihan cairan terjadi.</p>
<p align="justify">Tes guaiak    muntahan warna kopi atau feses ter hitam. Laporkan temuan-temuan positif.</p>
<p align="justify">Berikan antasida    yag diresepkan atau antagonis reseptor histamin seperti simetidin</p>
</td>
<td>Memberikan pedoman untuk penggantian    cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler.</p>
<p align="justify">Penggantian    cairan dititrasi untuk meyakinkan rata-2 pengeluaran urine 30-50 cc/jam    pada orang dewasa. Urine berwarna merah pada kerusakan otot masif karena    adanyadarah dan keluarnya mioglobin.</p>
<p align="justify">Peningkatan    permeabilitas kapiler, perpindahan protein, proses inflamasi dan kehilangan    cairan melalui evaporasi mempengaruhi volume sirkulasi dan pengeluaran    urine.</p>
<p align="justify">Penggantian    cairan tergantung pada berat badan pertama dan perubahan selanjutnya</p>
<p align="justify">Memperkirakan    luasnya oedema/perpindahan cairan yang mempengaruhi volume sirkulasi    dan pengeluaran urine.</p>
<p align="justify">Penyimpangan    pada tingkat kesadaran dapat mengindikasikan ketidak adequatnya volume    sirkulasi/penurunan perfusi serebral</p>
<p align="justify">Stres (Curling)    ulcus terjadi pada setengah dari semua pasien yang luka bakar berat(dapat    terjadi pada awal minggu pertama).</p>
<p align="justify">Observasi ketat    fungsi ginjal dan mencegah stasis atau refleks urine.</p>
<p align="justify">Memungkinkan    infus cairan cepat.</p>
<p align="justify">Resusitasi    cairan menggantikan kehilangan cairan/elektrolit dan membantu mencegah    komplikasi.</p>
<p align="justify">Mengidentifikasi    kehilangan darah/kerusakan SDM dan kebutuhan penggantian  cairan    dan elektrolit.</p>
<p align="justify">Meningkatkan    pengeluaran urine dan membersihkan tubulus dari debris /mencegah nekrosis.</p>
<p align="justify">Penggantian    lanjut karena kehilangan urine dalam jumlah besar</p>
<p align="justify">Menurunkan    keasaman gastrik sedangkan inhibitor histamin menurunkan produksi asam    hidroklorida untuk menurunkan produksi asam hidroklorida untuk menurunkan    iritasi gaster.</p>
<p align="justify">Mengidentifikasi    penyimpangan indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.    Periode darurat (awal 48 jam pasca luka bakar) adalah periode kritis    yang ditandai oleh hipovolemia yang mencetuskan individu pada perfusi    ginjal dan jarinagn tak adekuat.</p>
<p align="justify">Inspeksi adekuat    dari luka bakar.</p>
<p align="justify">Penggantian    cairan cepat penting untuk mencegah gagal ginjal. Kehilangan cairan    bermakna terjadi melalui jarinagn yang terbakar dengan luka bakar luas.    Pengukuran tekanan vena sentral memberikan data tentang status volume    cairan intravaskular.</p>
<p align="justify">Temuan-temuan    ini mennadakan hipovolemia dan perlunya peningkatan cairan. Pada lka    bakar luas, perpindahan cairan dari ruang intravaskular ke ruang interstitial    menimbukan hipovolemi.</p>
<p align="justify">Pasien rentan    pada kelebihan beban volume intravaskular selama periode pemulihan bila    perpindahan cairan dari kompartemen interstitial pada kompartemen intravaskuler.</p>
<p align="justify">Temuan-temuan    guaiak positif ennandakan adanya perdarahan GI. Perdarahan GI menandakan    adaya stres ulkus (Curling&#8217;s).</p>
<p align="justify">Mencegah perdarahan    GI. Luka bakar luas mencetuskan pasien pada ulkus stres yang disebabkan    peningkatan sekresi hormon-hormon adrenal dan asam HCl oleh lambung.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26">Resiko    kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan cedera inhalasi asap atau    sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial    dari dada atau leher.</td>
<td>Pasien dapat mendemonstrasikan    oksigenasi adekuat.</p>
<p align="justify">Kriteroia evaluasi:    RR 12-24 x/mnt, warna kulit normal, GDA dalam renatng normal, bunyi    nafas bersih, tak ada kesulitan bernafas.</p>
</td>
<td>Pantau laporan GDA dan kadar    karbon monoksida serum.</p>
<p align="justify">Beriakan suplemen    oksigen pada tingkat yang ditentukan. Pasang atau bantu dengan selang    endotrakeal dan temaptkan pasien pada ventilator mekanis sesuai pesanan    bila terjadi insufisiensi pernafasan (dibuktikan dnegna hipoksia, hiperkapnia,    rales, takipnea dan perubahan sensorium).</p>
<p align="justify">Anjurkan pernafasan    dalam dengan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam selama tirah    baring.</p>
<p align="justify">Pertahankan    posisi semi fowler, bila hipotensi tak ada.</p>
<p align="justify">Untuk luka    bakar sekitar torakal, beritahu dokter bila terjadi dispnea disertai    dengan takipnea. Siapkan pasien untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.</p>
</td>
<td>Mengidentifikasi kemajuan    dan penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Inhalasi asap dapat merusak    alveoli, mempengaruhi pertukaran gas pada membran kapiler alveoli.</p>
<p align="justify">Suplemen oksigen    meningkatkan jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Ventilasi    mekanik diperlukan untuk pernafasan dukungan sampai pasie dapat dilakukan    secara mandiri.</p>
<p align="justify">Pernafasan    dalam mengembangkan alveoli, menurunkan resiko atelektasis.</p>
<p align="justify">Memudahkan    ventilasi dengan menurunkan tekanan abdomen terhadap diafragma.</p>
<p align="justify">Luka bakar    sekitar torakal dapat membatasi ekspansi adda. Mengupas kulit (eskarotomi)    memungkinkan ekspansi dada.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26">Resiko    tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan    perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat;    penurunan Hb, penekanan respons inflamasi</td>
<td>Pasien bebas dari infeksi.</p>
<p align="justify">Kriteria evaluasi:    tak ada demam, pembentukan jaringan granulasi baik.</p>
</td>
<td>Pantau:</p>
<ul type="disc">
<li>Penampilan luka      bakar (area luka bakar, sisi donor dan status balutan di atas sisi tandur      bial tandur kulit dilakukan) setiap 8 jam.</li>
<li>Suhu setiap 4 jam.</li>
<li>Jumlah makanan yang      dikonsumsi setiap kali makan.</li>
</ul>
<p align="justify">Bersihkan area    luka bakar setiap hari dan lepaskan jarinagn nekrotik (debridemen) sesuai    pesanan. Berikan mandi kolam sesuai pesanan, implementasikan perawatan    yang ditentukan untuk sisi donor, yang dapat ditutup dengan balutan    vaseline atau op site.</p>
<p align="justify">Lepaskan krim    lama dari luka sebelum pemberian krim baru. Gunakan sarung tangan steril    dan beriakn krim antibiotika topikal yang diresepkan pada area luka    bakar dengan ujung jari. Berikan krim secara menyeluruh di atas luka.</p>
<p align="justify">Beritahu dokter    bila demam drainase purulen atau bau busuk dari area luka bakar, sisi    donor atau balutan sisi tandur. Dapatkan kultur luka dan berikan antibiotika    IV sesuai ketentuan.</p>
<p align="justify">Tempatkan pasien    pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka bakar luas yang    mengenai area luas tubuh. Gunakan linen tempat tidur steril, handuk    dan skort untuk pasien. Gunakan skort steril, sarung tangan dan penutup    kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Tempatkan    radio atau televisis pada ruangan pasien untuk menghilangkan kebosanan.</p>
<p align="justify">Bila riwayat    imunisasi tak adekuat, berikan globulin imun tetanus manusia (hyper-tet)    sesuai pesanan.</p>
<p align="justify">Mulai rujukan    pada ahli diet, beriakn protein tinggi, diet tinggi kalori. Berikan    suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan    bila masukan makanan kurang dari 50%. Anjurkan NPT atau makanan enteral    bial pasien tak dapat makan per oral.</p>
</td>
<td>
Mengidentifikasi    indikasi-indikasi kemajuan atau penyimapngan dari hasil yang diharapkan.</p>
<p align="justify">Pembersihan    dan pelepasan jaringan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi.</p>
<p align="justify">Antimikroba    topikal membantu mencegah infeksi. Mengikuti prinsip aseptik melindungi    pasien dari infeksi. Kulit yang gundul menjadi media yang baik untuk    kultur pertumbuhan baketri.</p>
<p align="justify">Temuan-temuan    ini mennadakan infeksi. Kultur membantu mengidentifikasi patogen penyebab    sehingga terapi antibiotika yang tepat dapat diresepkan. Karena balutan    siis tandur hanya diganti setiap 5-10 hari, sisi ini memberiakn media    kultur untuk pertumbuhan bakteri.</p>
<p align="justify">Kulit adalah    lapisan pertama tubuh untuk pertahanan terhadap infeksi. Teknik steril    dan tindakan perawatan perlindungan lainmelindungi pasien terhadap infeksi.    Kurangnya berbagai rangsang ekstrenal dan kebebasan bergerak mencetuskan    pasien pada kebosanan.</p>
<p align="justify">Melindungi    terhadap tetanus.</p>
<p align="justify">Ahli diet adalah    spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi paling baik status nutrisi    pasien dan merencanakan diet untuk emmenuhi kebuuthan nutrisi penderita.    Nutrisi adekuat memabntu penyembuhan luka dan memenuhi kebutuhan energi.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26">Nyeri    berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manipulasi    jaringan cidera contoh debridemen luka.</td>
<td>Pasien dapat mendemonstrasikan    hilang dari ketidaknyamanan.</p>
<p align="justify">Kriteria evaluasi:    menyangkal nyeri, melaporkan perasaan nyaman, ekspresi wajah dan postur    tubuh rileks.</p>
</td>
<td>Berikan anlgesik narkotik    yang diresepkan prn dan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan    luka. Evaluasi keefektifannya. Anjurkan analgesik IV bila luka bakar    luas.</p>
<p align="justify">Pertahankan    pintu kamar tertutup, tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra    untuk memberikan kehangatan.</p>
<p align="justify">Berikan ayunan    di atas temapt tidur bila diperlukan.</p>
<p align="justify">Bantu dengan    pengubahan posisi setiap 2 jam bila diperlukan. Dapatkan bantuan tambahan    sesuai kebutuhan, khususnya bila pasien tak dapat membantu membalikkan    badan sendiri.</p>
</td>
<td>Analgesik narkotik diperlukan    utnuk memblok jaras nyeri dengan nyeri berat. Absorpsi obat IM buruk    pada pasien dengan luka bakar luas yang disebabkan oleh perpindahan    interstitial berkenaan dnegan peningkatan permeabilitas kapiler.</p>
<p align="justify">Panas dan air    hilang melalui jaringan luka bakar, menyebabkan hipoetrmia. Tindakan    eksternal ini membantu menghemat kehilangan panas.</p>
<p align="justify">Menururnkan    neyri dengan mempertahankan berat badan jauh dari linen temapat tidur    terhadap luka dan menuurnkan pemajanan ujung saraf pada aliran udara.</p>
<p align="justify">Menghilangkan    tekanan pada tonjolan tulang dependen. Dukungan adekuat pada luka bakar    selama gerakan membantu meinimalkan ketidaknyamanan.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26">Resiko    tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler    perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena,    contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema.</td>
<td>Pasien menunjukkan sirkulasi    tetap adekuat.</p>
<p align="justify">Kriteria evaluasi:    warna kulit normal, menyangkal kebas dan kesemutan, nadi perifer dapat    diraba.</p>
</td>
<td>Untuk luka bakar yang mengitari    ekstermitas atau luka bakar listrik, pantau status neurovaskular dari    ekstermitas setaip 2 jam.</p>
<p align="justify">Pertahankan    ekstermitas bengkak ditinggikan.</p>
<p align="justify">Beritahu dokter    dengan segera bila terjadi nadi berkurang, pengisian kapiler buruk,    atau penurunan sensasi. Siapkan untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.</p>
</td>
<td>Mengidentifikasi indikasi-indikasi    kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.</p>
<p align="justify">Meningkatkan    aliran balik vena dan menurunkan pembengkakan.</p>
<p align="justify">Temuan-temuan    ini menandakan keruskana sirkualsi distal. Dokter dapat mengkaji tekanan    jaringan untuk emnentukan kebutuhan terhadap intervensi bedah. Eskarotomi    (mengikis pada eskar) atau fasiotomi mungkin diperlukan untuk memperbaiki    sirkulasi adekuat.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td height="26">Kerusakan    integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit sekunder destruksi lapisan    kulit.</td>
<td>Memumjukkan regenerasi jaringan</p>
<p align="justify">Kriteria hasil:    Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka bakar.</p>
</td>
<td>Kaji/catat ukuran, warna,    kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.</p>
<p align="justify">Lakukan perawatan    luka bakar yang tepat dan tindakan kontrol infeksi.</p>
<p align="justify">Pertahankan    penutupan luka sesuai indikasi.</p>
<p align="justify">Tinggikan area    graft bila mungkin/tepat. Pertahankan posisi yang diinginkan dan imobilisasi    area bila diindikasikan.</p>
<p align="justify">Pertahankan    balutan diatas area graft baru dan/atau sisi donor sesuai indikasi.</p>
<p align="justify">Cuci sisi dengan    sabun ringan, cuci, dan minyaki dengan krim, beberapa waktu dalam sehari,    setelah balutan dilepas dan penyembuhan selesai.</p>
<p align="justify">Lakukan program    kolaborasi :</p>
<p align="justify">- Siapkan /    bantu prosedur bedah/balutan biologis.</p>
</td>
<td>Memberikan informasi dasar    tentang kebutuhan penanaman kulit dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi    pada aera graft.</p>
<p align="justify">Menyiapkan    jaringan untuk penanaman dan menurunkan resiko infeksi/kegagalan kulit.</p>
<p align="justify">Kain nilon/membran    silikon mengandung kolagen porcine peptida yang melekat pada permukaan    luka sampai lepasnya atau mengelupas secara spontan kulit repitelisasi.</p>
<p align="justify">Menurunkan    pembengkakan /membatasi resiko pemisahan graft. Gerakan jaringan dibawah    graft dapat mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal.</p>
<p align="justify">Area mungkin    ditutupi oleh bahan dengan permukaan tembus pandang tak reaktif.</p>
<p align="justify">Kulit graft    baru dan sisi donor yang sembuh memerlukan perawatan khusus untuk mempertahankan    kelenturan.</p>
<p align="justify">Graft kulit    diambil dari kulit orang itu sendiri/orang lain untuk penutupan sementara    pada luka bakar luas sampai kulit orang itu siap ditanam.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="center"><strong>Daftar pustaka</strong></p>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Brunner  and suddart. (1988). <strong>Textbook of Medical Surgical Nursing</strong>. Sixth  Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 1293 &#8211; 1328.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Carolyn,  M.H. et. al. (1990). <strong>Critical Care Nursing</strong>. Fifth Edition. J.B.  Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 752 &#8211; 779.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Carpenito,J,L.  (1999). <strong>Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan</strong>. Edisi 2 (terjemahan).  PT EGC. Jakarta.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Djohansjah,  M. (1991). <strong>Pengelolaan Luka Bakar</strong>. Airlangga University Press.  Surabaya.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Doenges  M.E. (1989). <strong>Nursing Care Plan</strong>. Guidlines for Planning Patient  Care (2 nd ed ). F.A. Davis Company. Philadelpia.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Donna  D.Ignatavicius dan Michael, J. Bayne. (1991). <strong>Medical Surgical Nursing.  A Nursing Process Approach</strong>. W. B. Saunders Company. Philadelphia.  Hal. 357 &#8211; 401.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Engram,  Barbara. (1998). <strong>Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah</strong>. volume  2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Goodner,  Brenda &amp; Roth, S.L. (1995). <strong>Panduan Tindakan Keperawatan Klinik  Praktis</strong>. Alih bahasa Ni Luh G. Yasmin Asih. PT EGC. Jakarta.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Guyton  &amp; Hall. (1997). <strong>Buku Ajar Fisiologi Kedokteran</strong>. Edisi 9.  Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Hudak  &amp; Gallo. (1997). <strong>Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik</strong>.  Volume I. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Long,  Barbara C. (1996). <strong>Perawatan Medikal Bedah</strong>. Volume I. (terjemahan).  Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.</p>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<ul>
<p align="justify">Marylin  E. Doenges. (2000). <strong>Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan  dan Pendokumentasian Perawatan Pasien</strong><em> </em> Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.</p>
</ul>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perawat.web.id/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-luka-bakar-combustio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawat dan politik</title>
		<link>http://perawat.web.id/perawat-dan-politik/</link>
		<comments>http://perawat.web.id/perawat-dan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 04:54:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Keperawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perawat.web.id/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[2009 kita akan memasuki sebuah pesta di tanah air, sebuah pesta demokrasi yang banyak menghabiskan uang triliunan rupiah. Calon yang bisa dititipkan suara rakyat agar di menggaung di parlemen di tentukan pada saat itu. tapi sadarkah kita perawat-perawat Indonesia, pada &#8230; <a href="http://perawat.web.id/perawat-dan-politik/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>2009 kita akan memasuki sebuah pesta di tanah air, sebuah pesta demokrasi yang banyak menghabiskan uang triliunan rupiah. Calon yang bisa dititipkan suara rakyat agar di menggaung di parlemen di tentukan pada saat itu.</p>
<p>tapi sadarkah kita perawat-perawat Indonesia, pada siapa kita menitipkan suara  di Parlemen? yang bisa memperjuangkan profesi kita? yang bisa memperjuangkan nasib perawat? yang bisa memperjuangkan kesehatan masyarakat kita? jawabannya hampir tidak ada.</p>
<p>saatnya kita introspeksi diri, mengapa Undang-undang keperawatan sampai sekarang belum disahkan? mengapa undang-undang yang mengatur dan bisa melindungi  perawat sampai sekarang sudah tidak terdengar? apakah Drafnya di parlemen sudah usang dan tidak terbaca lagi oleh anggota dewan? atau kita akan puas kalau undang-undang itu hanya menjadi draf saja? jawabannya tidak lain karena kita tidak punya wakil yang bisa memperjuangkan undang-undang tersebut.</p>
<p>Mari kita lirik profesi guru dan dosen, dengan diterbitkannya Undang-undang guru dan dosen tentu saja mengangkat kesejahteraan mereka, terutama dengan adanya sertifikasi guru dan dosen. mengapa mereka bisa?  tentu saja karena mereka memiliki organisasi profesi yang kuat dan mereka banyak memiliki wakil di parlemen. Banyak guru dan dosen, bahkan rektor yang turun gunung masuk dunia politik dan menjadi anggota dewan, tentu saja nantinya mereka akan menjadi pejuang pendidikan dalam dunia politik, dan mereka mendapat dukungan dari teman-teman seprofesinya.</p>
<p>ayo jangan terlena, teman-teman perawat jangan hanya mengusasai ilmu disamping tempat tidur saja, atau ilmu dalam bangsal saja. mari perluas wawasan kita dalam kehidupan sosial dan politik, karena sebenarnya apapun profesi kita, apapun pekerjaan kita, apapun status sosial kita, kita adalah makhluk politik, kita selalu terlibat dalam dunia politik baik itu langsung maupun tidak langsung. Apabila kita terlena kita akan hanya dijadikan sebagai objek dan korban politik.</p>
<p>Mari kita dukung perawat-perawat yang memiliki integritas dan mencalonkan diri menjadi anggota Dewan untuk mensuarakan profesi kita di Parlemen. Mari kita kembangkan pengetahuan kita tidak hanya terbatas pada ilmu keperawatan. Tidak ada salahnya perawat menguasai ilmu politik, ilmu sosial, ilmu hukum, dan ilmu lainnya. Niscaya kita akan menjadi profesi yang kuat. (subhan kadir_pstw gau mabaji)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perawat.web.id/perawat-dan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Teknologi Informasi dalam Pelayanan di Ruang Rawat</title>
		<link>http://perawat.web.id/perkembangan-teknologi-informasi-dalam-pelayanan-di-ruang-rawat/</link>
		<comments>http://perawat.web.id/perkembangan-teknologi-informasi-dalam-pelayanan-di-ruang-rawat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 10:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan Informatika]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[ruang rawat]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perawat.web.id/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Era globalisasi dan era informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi &#8230; <a href="http://perawat.web.id/perkembangan-teknologi-informasi-dalam-pelayanan-di-ruang-rawat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="10pt;">Era globalisasi dan era informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun memang kita tidak bisa mnutup mata akan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh keperawatan di Indonesia, diantaranya adalah keterbatasan SDM yang menguasai bidang keperawatan dan teknologi informasi sevara terpadu, masih minimnya infrastruktur untuk menerapkan sistem informasi di dunia pelayanan, dan masih rendahnya minat para perawat di bidang teknologi informasi keperawatan.</span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                  &lt;m:brkBinSub m:val="--></p>
<p><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-indent:18.0pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	mso-themecolor:hyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-bidi-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	text-indent:18.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	text-indent:18.0pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}  &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Pelayanan rumah sakit setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu pelayanan medis dan pelayanan yang bersifat non-medis, sebagai contoh pelayanan medis dapat terdiri dari pemberian obat, pemberian makanan, asuhan keperawatan, diagnosa medis, dan lain-lain. Ada pun pelayanan yang bersifat non medis seperti proses penerimaan, proses pembayaran, sampai proses administrasi yang terkait dengan klien yang dirawat merupakan bentuk pelayanan yang tidak kalah pentingnya.</p>
<p class="MsoNormal">Pelayanan yang bersifat medis khususnya di pelayanan keperawatan mengalami perkembangan teknologi informasi yang sangat membantu dalam proses keperawatan dimulai dari pemasukan data secara digital ke dalam komputer yang dapat memudahkan pengkajian selanjutnya, intervensi apa yang sesuai dengan diagnosis yan sudah ditegakkan sebelumnya, hingga hasil keluaran apa yang diharapkan oleh perawat setelah klien menerima asuhan keperawatan, dan semua proses tersebut tentunya harus sesuai dengan NANDA, NIC, dan NOC yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam database program aplikasi yang digunakan. Namun ada hal yang perlu kembali dipahami oleh semua tenaga kesehatan yang menggunakan teknologi informasi yaitu semua teknologi yang berkembang dengan pesat ini hanyalah sebuah alat bantu yang tidak ada gunanya tanpa intelektualitas dari penggunanya dalam hal ini adalah perawat dengan segala pengetahuannya tentang ilmu keperawatan.</p>
<p class="MsoNormal">Contoh nyata yang dapat kita lihat di dunia keperawatan Indonesia yang telah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer adalah terobosan yang diciptakan oleh kawan-kawan perawat di RSUD Banyumas. Sebelum menerapkan sistem ini hal pertama yang dilakukan adalah membakukan klasifikasi diagnosis keperawatan yang selama ini dirasa masih rancu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi, penjadwalan, evaluasi efektifitas intervensi sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan. Sistem ini mempermudah perawat memonitor klien dan segera dapat memasukkan data terkini dan intervensi apa yang telah dilakukan ke dalam komputer yang sudah tersedia di setiap bangsal sehingga akan mengurangi kesalahan dalam dokumentasi dan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang sudah dilakukan.</p>
<p class="MsoNormal">Pelayanan yang bersifat non-medis pun dengan adanya perkembangan teknologi informasi seperi sekarang ini semakin terbantu dalam menyediakan sebuah bentuk pelayanan yang semakin efisien dan efektif, dimana para calon klien rumah sakit yang pernah berobat atau dirawat di RS idak perlu lagi menunggu dalam waktu yang cukup lama saat mendaftarkan diri karena proses administrasi yang masih terdokumentasi<span> </span>secara manual di atas kertas dan membutuhkan waktu yang cukup lama mencari data klien yang sudah tersimpan, ataupun setelah sekian lama mencari dan tidak ditemukan akhirnya klien tersebut diharuskan mendaftar ulang kembali dan hal ini jelas menurunkan efisiensi RS dalam hal penggunaan kertas yang tentunya membutuhkan biaya. Bandingkan bila setiap klien didaftarkan secara digital dan semua data mengenai klien dimasukkan ke dalam komputer sehingga ketika data-data tersebut dibutuhkan kembali dapat diambil dengan waktu yang relatif singkat dan akurat.</p>
<p class="MsoNormal">Referensi:</p>
<p class="MsoNormal">Belajar Infromatika Keperawatan dari RSUD Banyumas. <a href="http://www.anisfuad.wordpress.com/">http://www.anisfuad.wordpress.com/</a> (18 oktober 2007, 10:32:08 AM).</p>
<p class="MsoNormal">Clark, J &amp; Lang, N. 1992. Nursing next advance:<em>an international classification for nursing practice. </em>International Nursing Review, 39, 102-112, 128.</p>
<p class="MsoNormal">Penerapan Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Pelayanan Rumah Sakit dalam Menyongsong PJPT. <a href="http://www.portalkabe.com/">http://www.portalkabe.com/</a> (18 oktober 2007, 11:47:08 AM).</p>
<p class="MsoNormal">Thede, Linda Q. 2003. <em>Informatics and Nursing: Opportunities &amp; challenges. </em>Philadelpia: Lippincott Williams &amp; Wilkins.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perawat.web.id/perkembangan-teknologi-informasi-dalam-pelayanan-di-ruang-rawat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
